HELLO

IRENE ZIANKA and The BLOG

Kamis, 13 Februari 2014

 Cerpen ini adalah karya aku sendiri, saat aku masih kelas 2 SMP :-) 

POHON JERUK EDHO




Untuk kesekian kali Edho  lewat  jalan kecil disamping kebun Pak Liem.  Untuk kesekian kalinya pula matanya tidak bisa berpaling dari sebatang pohon jeruk yang sangat rimbun, buahnyapun lebat sampai terjuntai menyentuh tanah, beberapa diantara buahnya berwarna kekuningan tandanya buah itu sudah tua  “hmm… pasti manis dan sangat segar “ pikir Edho




Pak Liem adalah sebutan untuk seorang lelaki cukup tua, umurnya kira-kira 60 tahunan, nama sebenarnya Pak Wibowo karena orangnya rajin sekali beribadah maka orang-orang memanggilnya Pak Liem artinya orang tua yang rajin beribadah dan sangat alim. Disamping rumah Pak Liem terdapat sebuah kebun, selain itu terdapat juga sebuah jalan kecil, jalan kecil itulah yang menjadi jalan pintas terdekat bagi Edho untuk pulang dan pergi ke sekolah tiap hari selain udaranya sejuk oleh deretan pepohonan, jalan itu juga tidak terlalu sempit.
  
Matahari siang bersinar garang menyengat kulit, orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa tetapi Edho santai-santai saja mengayuh sepedanya, Tery teman sekelasnya ia bonceng dibelakang.

Mereka asyik membicarakan pertandingan futsal di sekolahnya tadi, saat melintas dikebun Pak Liem seolah-olah ada suatu tarikan magnet yang sangat kuat, pandangan mata Edho kembali membidik pohon jeruk yang rimbun itu.

“Ter…coba liat deh pohon jeruk itu !!!”  kata Edho sambil menunjuk kearah pohon jeruk yang setiap hari menarik perhatiannya,,, Tery menoleh, mengikuti arah telunjuk Edho


“wah… banyak sekali!!! Eh ada dua orang sedang ngapain ya?” kata Tery, sedangkan Edho menghentikan sepedanya mereka memperhatikan orang itu penuh arti. Mereka turun dari sepeda, memandangi sekeliling yang sangat sepi lalu mereka berjalan turun mendekati pohon jeruk itu.
Kemudian…….

“Hmm…. Manisnya buah ini!!!” kata Edho serambi mengupas jeruk yang kedua.  “He’em besuk kita ambil lagi ya!!!” kata Tery menimpali.   “Mudah-mudahan  Pak Liem ke Ngawi lagi” sambung Edho bersemangat. Dua buah telah dilahapnya, kini dia mengupas jeruk yang ketiga.


“Ke Ngawi???”
‘Ada….aja!! yang penting jangan sampai ketahuan’
“Kalau ketahuan??”
“Yaaa dosalah”


“Dosaa…??” kata Edho,,, huk…!! Tiba-tiba saja sebutir biji jeruk tanpa permisi nyelonong masuk kekerongkongannya tanpa bisa dicegah lagi…….. dan ……


“Uhuk-uhuk!!” Edho terbatuk-batuk dan berusaha mengeluarkannya namun biji jeruk it uterus berjalan-jalan melewati usus lalu bersama-sama dengan makanan lain berkumpul didalam pencernaannya.


Mendadak Edho merasa sesuatu yang tidak beres terjadi pada dirinya, keringat dingin keluar dari sekujur tubuhnya berbutir-butir menyerupai biji jeruk

“Tery, kepalaku pusing banget nih, mataku berkunang-kunang,aku tidak bisa melihat wajah kamu! Aduh Ter, kenapa aku jadi begini??”


Edho mulai panik, apapun yang dipandangnya berubah kabur bergerak-gerak tak beraturan keringatnyapun semakin deras membasahi seluruh badannya.


Bahkan dirasakan telapak kaki dan tangannya sudah basah kuyup. Tery tak kalah paniknya menyaksikan perubahan yang dialami sahabatnya Edho,, mulut Tery menganga jeruk yang dimakannya tiba-tiba jatuh begitu saja tanpa disadari……
Tiba-tiba…………..

“E….Edho…i..i..i.tu” kata Tery terbata-bata.     “Diatas kepalamu,, diatas kepalamu” Tery berteriak-teriak sambil menunjuk kepala Edho.  Lalu Edho memegang kepalanya, tangannya menangkap sesuatu tepat diatas kepalanya.   Mula-mula menyerupai benjolan kemudian benjolan itu kian meruncing serupa tanduk.


“Haah apa?? kepala Edho tumbuh tanduk ??” seru Tery


Oh     tidak!!      Tanduk    itu      ternyata     terus memanjang,  meninggi dan terus meninggi…   ASTAGA!! Tanduk itu menjadi batang pohon lalu bercabang muncul ranting-ranting.   Pada rantingnya tumbuh tunas-tunas daun. Bahkan menyusul kemudian kuncup-kuncup putik yang bermekaran menjadi bunga-bunga dan menyembulkan putik………


Dan kemudian…..
O’o!! putik-putik itu membesar sempurna sebagai buah jeruk



 “E…Edho  biji jeruk yang kau telan itu menembus kepalamu!”  seru Tery… Semula Tery ketakutan dan panik namun kini ia terlihat senang.  Matanya terus membelalak takjup,  dicobanya memegang buah-buah jeruk yang bergelantungan pad pohon yang ada diatas kepala Edho.


“ Ha…ha…ha..! kau seperti tabulampot!! Tanaman buah dalam pot,, ya  ya  ya  kau menjadi pot buah jeruk, ha…ha…ha….lucu….lucu….ha….ha…ha” Tery tertawa geli. “Tery jangan bercanda!!”
“Sungguh aku tidak bohong, kamu berubah manusia pohon jeruk”


“ha…ha…ha…” Tery terbahak-bahak.


“bagaimana ini Ter,?? Aku takut Ter,!! Aku tidak mau menjadi manusia jeruk , aku mau jadi manusia biasa saja.. tolong aku Ter!!” pinta Edho pada Tery.   Edho kebingungan  berputar kesana kesini, buah jeruk pada ranting di atas kepala Edho ikut bergoyang-goyang seperti ditiup angin…
Di tengah-tengah kepanikan kedua matanya menangkap bayangan sosok tubuh agak tua dari kejauhan.  Setelah dekat “aduh celaka!! Pak Liem…Pak Liem datang ehh Dho sepertinya dia bawa parang!”


“Ya itu Pak Liem, kok juga membawa keranjang sih??”
“jangan-jangan …………” Tery menggantung ucapannya “jangan-jangan Pak Liem akan menebang pohon diatas kepalamu itu!! Wah bisa bahaya ! Aduh Dho aku pulang saja,, aku takut!!”


Tery berlari meninggalkan Edho sendiri, ia juga ingin menyusul Tery tapi karena buahnya lebat, pohon itu terasa sangat berat baginya
Lalu Pak Liem dating menghampiri Edho dan……”hai….Edho”sapa Pak Liem, wajahnya sama sekali tidak memunculkan kemarahannya.
  
“ha…hai juga Pak Liem, em..ma…mau kemana Pak ?” Tanya Edho dengan nada takut.. tapi ia coba untuk memberanikan diri.
O O itu loo Bpk mau memetik buah jeruk, ternyata setelah ditinggal ke Ngawi jeruk-jeruk itu sudah matang dan masak saatnya untuk di panen”
“panen??”
“iya daripada dicuri anak-anak nakal lebih baik dipanen saja untuk dijual kepasar, kan lumayan untuk tambahan tabungan, setelah itu pohonnya akan Bapak tebang” jawab Pak Liem santai
“ha……??” Edho sangat kaget dan takut mendengar jawaban dari Pak Liem
Tiba-tiba muncul bayangan dirinya mencuri buah jeruk Pak Liem kembali melintas di otaknya, ia merasa sangat bersalah dan ingin meminta maaf, namun semua sudah terlambat sekarang Pak Liem sudah berdiri didepanya, dengan parang terhunus dan keranjang yang siap disampingnya

“Pak Liem mau apa? Ampun ……ampun Pak Liem ampun !! saya berjanji takakan mencuri lagi!! Saya mengaku bersalah Pak!”  kata Edho memohon kepada Pak Liem, ia berteriak-teriak sambil memegangi kepalanya
Tapi Pak Liem tak peduli

Wajahnya berubah menjadi garang dan menyeramkan, Pak Liem sangat marah, Dalam sekejap mata Pak Liem mengibaskan parangnya dan…..BRUK…!

“Aduh!!” seru Edho kesakitan, ia pun terbangun dan benar-benar terbangun
Dipandangi sekeliling nya tidak ada parang, pohonjeruk dan juga Pak Liem
“Alhamdulillah aku Cuma mimpi” ucap Edho perlahan, ia menarik nafas dalam-dalam, sambil berusaha berdiri dan kembali ke tempat tidurnya. 

Rupanya ia terjatuh dari tempat tidurnya dan benjolan di kepalanya itu karena ia terbentur tempat tidur ketika ia terjatuh.

“hulf….pasti gara-gara aku mencuri jeruknya Pak Liem tadi siang” batinnya
Ia menyesali perbuatannya dan ia bertekat besok pagi akan meminta maaf kepada Pak Liem, ketika berangkat kesekolah bersama Tery temannya.

Malam masih panjang lalu Edho melanjutkan tidurnya, ia cepat-cepat membalikan bantalnya agar tidak mimpi yang buruk lagi dan tak lupa ia memanjatkan doa kepada Allah agar selama tidur selalu dijaga sampai terbit fajar…..””



SELESAI








Tidak ada komentar:

Posting Komentar