Cerpen ini adalah karya aku sendiri, saat aku masih kelas 2 SMP :-)
POHON JERUK EDHO
Untuk kesekian kali Edho
lewat jalan kecil disamping kebun
Pak Liem. Untuk kesekian kalinya pula
matanya tidak bisa berpaling dari sebatang pohon jeruk yang sangat rimbun,
buahnyapun lebat sampai terjuntai menyentuh tanah, beberapa diantara buahnya
berwarna kekuningan tandanya buah itu sudah tua
“hmm… pasti manis dan sangat segar “ pikir Edho
Pak Liem adalah
sebutan untuk seorang lelaki cukup tua, umurnya kira-kira 60 tahunan, nama
sebenarnya Pak Wibowo karena orangnya rajin sekali beribadah maka orang-orang memanggilnya
Pak Liem artinya orang tua yang rajin beribadah dan sangat alim. Disamping
rumah Pak Liem terdapat sebuah kebun, selain itu terdapat juga sebuah jalan
kecil, jalan kecil itulah yang menjadi jalan pintas terdekat bagi Edho untuk
pulang dan pergi ke sekolah tiap hari selain udaranya sejuk oleh deretan
pepohonan, jalan itu juga tidak terlalu sempit.
Matahari siang bersinar garang menyengat
kulit, orang-orang berjalan dengan tergesa-gesa tetapi Edho santai-santai saja
mengayuh sepedanya, Tery teman sekelasnya ia bonceng dibelakang.
Mereka asyik membicarakan pertandingan futsal
di sekolahnya tadi, saat melintas dikebun Pak Liem seolah-olah ada suatu
tarikan magnet yang sangat kuat, pandangan mata Edho kembali membidik pohon
jeruk yang rimbun itu.
“Ter…coba liat deh pohon jeruk itu !!!” kata Edho sambil menunjuk kearah pohon jeruk
yang setiap hari menarik perhatiannya,,, Tery menoleh, mengikuti arah telunjuk
Edho
“wah… banyak sekali!!! Eh ada dua orang
sedang ngapain ya?” kata Tery, sedangkan Edho menghentikan sepedanya mereka
memperhatikan orang itu penuh arti. Mereka turun dari sepeda, memandangi
sekeliling yang sangat sepi lalu mereka berjalan turun mendekati pohon jeruk
itu.
Kemudian…….
“Hmm…. Manisnya buah ini!!!” kata Edho
serambi mengupas jeruk yang kedua. “He’em
besuk kita ambil lagi ya!!!” kata Tery menimpali. “Mudah-mudahan Pak Liem ke Ngawi lagi” sambung Edho
bersemangat. Dua buah telah dilahapnya, kini dia mengupas jeruk yang ketiga.
“Ke Ngawi???”
‘Ada….aja!! yang penting jangan sampai
ketahuan’
“Kalau ketahuan??”
“Yaaa dosalah”
“Dosaa…??” kata Edho,,, huk…!! Tiba-tiba saja
sebutir biji jeruk tanpa permisi nyelonong masuk kekerongkongannya tanpa bisa
dicegah lagi…….. dan ……
“Uhuk-uhuk!!” Edho terbatuk-batuk dan
berusaha mengeluarkannya namun biji jeruk it uterus berjalan-jalan melewati
usus lalu bersama-sama dengan makanan lain berkumpul didalam pencernaannya.
Mendadak Edho merasa
sesuatu yang tidak beres terjadi pada dirinya, keringat dingin keluar dari
sekujur tubuhnya berbutir-butir menyerupai biji jeruk
“Tery, kepalaku pusing banget nih, mataku
berkunang-kunang,aku tidak bisa melihat wajah kamu! Aduh Ter, kenapa aku jadi
begini??”
Edho mulai panik, apapun yang dipandangnya
berubah kabur bergerak-gerak tak beraturan keringatnyapun semakin deras
membasahi seluruh badannya.
Bahkan dirasakan telapak kaki dan tangannya
sudah basah kuyup. Tery tak kalah paniknya menyaksikan perubahan yang dialami sahabatnya
Edho,, mulut Tery menganga jeruk yang dimakannya tiba-tiba jatuh begitu saja
tanpa disadari……
Tiba-tiba…………..
“E….Edho…i..i..i.tu” kata Tery terbata-bata. “Diatas kepalamu,, diatas kepalamu” Tery
berteriak-teriak sambil menunjuk kepala Edho.
Lalu Edho memegang kepalanya, tangannya menangkap sesuatu tepat diatas
kepalanya. Mula-mula menyerupai
benjolan kemudian benjolan itu kian meruncing serupa tanduk.
“Haah apa?? kepala Edho tumbuh tanduk ??”
seru Tery
Oh
tidak!! Tanduk itu
ternyata terus memanjang, meninggi dan terus meninggi… ASTAGA!! Tanduk itu menjadi batang pohon
lalu bercabang muncul ranting-ranting.
Pada rantingnya tumbuh tunas-tunas daun. Bahkan menyusul kemudian
kuncup-kuncup putik yang bermekaran menjadi bunga-bunga dan menyembulkan
putik………
Dan kemudian…..
O’o!! putik-putik itu membesar sempurna
sebagai buah jeruk
“E…Edho
biji jeruk yang kau telan itu menembus kepalamu!” seru Tery… Semula Tery ketakutan dan panik
namun kini ia terlihat senang. Matanya
terus membelalak takjup, dicobanya
memegang buah-buah jeruk yang bergelantungan pad pohon yang ada diatas kepala
Edho.
“ Ha…ha…ha..! kau seperti tabulampot!!
Tanaman buah dalam pot,, ya ya ya kau
menjadi pot buah jeruk, ha…ha…ha….lucu….lucu….ha….ha…ha” Tery tertawa geli. “Tery
jangan bercanda!!”
“Sungguh aku tidak bohong, kamu berubah
manusia pohon jeruk”
“ha…ha…ha…” Tery terbahak-bahak.
“bagaimana ini Ter,?? Aku takut Ter,!! Aku
tidak mau menjadi manusia jeruk , aku mau jadi manusia biasa saja.. tolong aku
Ter!!” pinta Edho pada Tery. Edho
kebingungan berputar kesana kesini, buah
jeruk pada ranting di atas kepala Edho ikut bergoyang-goyang seperti ditiup
angin…
Di tengah-tengah kepanikan kedua matanya
menangkap bayangan sosok tubuh agak tua dari kejauhan. Setelah dekat “aduh celaka!! Pak Liem…Pak
Liem datang ehh Dho sepertinya dia bawa parang!”
“Ya itu Pak Liem, kok juga membawa keranjang
sih??”
“jangan-jangan …………” Tery menggantung
ucapannya “jangan-jangan Pak Liem akan menebang pohon diatas kepalamu itu!! Wah
bisa bahaya ! Aduh Dho aku pulang saja,, aku takut!!”
Tery berlari meninggalkan Edho sendiri, ia
juga ingin menyusul Tery tapi karena buahnya lebat, pohon itu terasa sangat
berat baginya
Lalu Pak Liem dating menghampiri Edho
dan……”hai….Edho”sapa Pak Liem, wajahnya sama sekali tidak memunculkan
kemarahannya.
“ha…hai juga Pak Liem, em..ma…mau kemana Pak
?” Tanya Edho dengan nada takut.. tapi ia coba untuk memberanikan diri.
O O itu loo Bpk mau memetik buah jeruk,
ternyata setelah ditinggal ke Ngawi jeruk-jeruk itu sudah matang dan masak
saatnya untuk di panen”
“panen??”
“iya daripada dicuri anak-anak nakal lebih
baik dipanen saja untuk dijual kepasar, kan lumayan untuk tambahan tabungan,
setelah itu pohonnya akan Bapak tebang” jawab Pak Liem santai
“ha……??” Edho sangat kaget dan takut
mendengar jawaban dari Pak Liem
Tiba-tiba muncul bayangan dirinya mencuri
buah jeruk Pak Liem kembali melintas di otaknya, ia merasa sangat bersalah dan
ingin meminta maaf, namun semua sudah terlambat sekarang Pak Liem sudah berdiri
didepanya, dengan parang terhunus dan keranjang yang siap disampingnya
“Pak Liem mau apa? Ampun ……ampun Pak Liem
ampun !! saya berjanji takakan mencuri lagi!! Saya mengaku bersalah Pak!” kata Edho memohon kepada Pak Liem, ia
berteriak-teriak sambil memegangi kepalanya
Tapi Pak Liem tak peduli
Wajahnya berubah menjadi garang dan
menyeramkan, Pak Liem sangat marah, Dalam sekejap mata Pak Liem mengibaskan
parangnya dan…..BRUK…!
“Aduh!!” seru Edho kesakitan, ia pun
terbangun dan benar-benar terbangun
Dipandangi sekeliling nya tidak ada parang,
pohonjeruk dan juga Pak Liem
“Alhamdulillah aku Cuma mimpi” ucap Edho
perlahan, ia menarik nafas dalam-dalam, sambil berusaha berdiri dan kembali ke
tempat tidurnya.
Rupanya
ia terjatuh dari tempat tidurnya dan benjolan di kepalanya itu karena ia terbentur
tempat tidur ketika ia terjatuh.
“hulf….pasti
gara-gara aku mencuri jeruknya Pak Liem tadi siang” batinnya
Ia
menyesali perbuatannya dan ia bertekat besok pagi akan meminta maaf kepada Pak
Liem, ketika berangkat kesekolah bersama Tery temannya.
Malam
masih panjang lalu Edho melanjutkan tidurnya, ia cepat-cepat membalikan bantalnya
agar tidak mimpi yang buruk lagi dan tak lupa ia memanjatkan doa kepada Allah
agar selama tidur selalu dijaga sampai terbit fajar…..””
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar